Sunday, September 25, 2016








Sensasi Bercinta Di Dapur

Sensasi Bercinta Di Dapur


kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang ABG yang bernama Teguh. Berawal dari Kran air dapur yang terlepas dari pangkalnya, maka Teguh bisa menyetubuhi Bibi/ Tante-nya yang telah lama di idam-idamkan. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.
Panggil saja nama saya Teguh (nama samaran), di situs dewasa ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman sex mesum yang sangat memicu adrenalin. Usia saya saat ini 25 tahun. Kisa sex ini terjadi ketika saya duduk dibangku SMA, tepatnya ketika saya masih duduk di bangku kelas III SMA. Sampai saat ini Cerita Hot mesum saya ini masih tertanam dala benak dan fikiran saya.

Cerita sex saya ini tergolong cerita sex yang tidak wajar, kenapa begitu ?? karena saya disini akan menceritakan kisah sex dengan Bibi saya yang memang cantik bahenol dan mempesona. Kisah sex ini berawal dari dititipkan-nya saya oleh orangtusaya kepada adik kandung ibu saya yaitu Bibiku. Sungguh benar-benar cantik, bertubuh putih mulus bibi saya ini.

Pokonya para pembaca sekalian melihat Bibi saya pasti akan berfikir sperti saya. Saya saja yang sebagai keponakanya sangat amat ingin sekali menikmati hangatnya berhubungan intim dengannya. Bibi saya ini bernama Irma, Bibi Irma ini adalah seorang orang tua tunggal dari ke 2 anaknya, anaknya 1 laki-laki dan satunya lagi perempuan.

Bibi saya ini menjanda bukan karena kehendaknya, beliau menjanda karena ditinggal suaminya meninggal akibat kecelakaan motor pada event motor cross. Almarhun suami Bibi Irma ini adalah seorang pembalap motor cross yang cukup terkenal di daerahnya. Sungguh malang sekali Bibi Irma ini, diusia yang terhitung masih cukup muda sudah menjadi janda dengan 2 orang anak pada usianya yang masih 35 tahun.

Walaupun Bibi Irma janda beranak 2, namun tubuhnya sungguh terawat sekali dan masih singset dan sexy. Maklum sajalah walaupu seorang janda Bib Irma ini termasuk JAPAN (janda mapan) kondisi ekonominya tergolong lebih dari cukup. Bibi Irma hampir setiap minggu melsayakan senam erobik, spa dan masih banyakk perawatan yang dilsayakanya.

Alhasil, Bibi Irma bila dibandingkan dengan gadis berusia 22 tahun tidak kalah. Ditambah lagi Bibi Irma mempunyai pantatnya semok dengan pinggul yang singset. Betis dan pahanya sangat putih sekali para pembaca, bahkan tumpukan lemak dan selulit tidak ada sedikitpun ditubuhnya. Mantap kan. Buah dada-nya lumayan besar, saya perkirakan ukuran BH-nya sekitar 34B.

Buah dadanya itu loh, masih kencang sekali, tidak kendor sedikitpun. Jadi Jika diluar rumah, Bibi Irma ini seperti seorang Remaja yang menggugah gairah kaum laki-laki.

Kisah sex sedarah saya dengan Bibi Irma ini sungguh tidak terduga sekali, bahkan saya tidak menyangka bisa bersetubuh denganya. Pada waktu itu suasana rumah sedang sepi, saat itu saya sepulang sekolah saya, melihat Bibi yang sedang asyik memasak untuk hidangan makan siang. Oh iya Bibi saya ini adalah seorang dosen, kebetulan sekali saat itu hari itu jadwal mengajar Bibi hanya satu mata kuliah saja.

Dengan langkah yang terlihat lelah karena kecapekan, secara spontan saya langsung munuju menghampiri meja makan dan berkata,

“ Bibi, makananya belum siap yah? ”, tanya saya pada bib Irma.

“ Belum nih Guh, sabar dulu ya, Mbak Surti (pembantu Bibi saya) dari pagi disusruh belanja malah belum pulang, jadi Bibi repot sendiri deh ”, keluh Bibi Irma.


Saat itu terlihat di dahi-nya mengalir cucuran keringat, belum lagi tangannya yang belepotan dengan berbagai macam bumbu yang sedang diraciknya. Kelihatan sekali kalau Bibi Irma tidak pernah bekerja keras seperti ini. Walaupun begitu, entah kenapa terlihat sekali wajah Bibi saya semakin cantik. Saat itu dia hanya menggunakan daster pendek yang sebenarnya tidak ketat.

Sehingga saat itu terlihat bentuk pantat yang semok dan pinggulnya yang sexy dibali daster tipisnya. Daster itu jadi kelihatan agak ketat dan memetakan garis dari celana dalamnya kalau dia sedang membungkukkan badannya. Uhhh, seksi sekali pikiran saya mulai melayang tak jelas. Belum selesai saya mebayangkan Bibi Irma,tiba-tib dia berkata,

“ Bik, Teguh bantuin Bibi ya ? ”, ucap saya.

“ Boleh-boleh Guh, sini-sini !!! ”, jawab Bibi tidak keberatan.

Kemudian saya menuju kearah Bibi, saat itu tidak ada angin tidak ada hujan, belum sampai saya mendekat, entah karena apa tiba-tiba kran air di cucian piring copot. Hal itu secara otomatis air langsung menyembur dengan derasnya mengenai Bibi Irma yang kebetulan saat itu Bibi berada didepan kran tadi, lalu,

“ Aduh Guh, tolongin Bibi, gimana nih Guh ?? ”, ucapBibi saya dengan paniknya berusaha menutupi saluran air yang menyembur dengan tangannya.

Karena tubuh Bibi saya tidak terlalu tinggi, untuk mencapai saluran itu dia harus sedikit membungkuk. Terlihat sekali dasternya yang sudah basah kuyup itu sekali lagi memetakan pantatnya yang besar. Garis celana dalamnya kini terlihat lebih jelas.
Dengan tergesa-gesa, tanpa pikir-pikir lagi saya segera mendekat dan membantunya menutup saluran air itu dengan tanganku juga.

Tanpa saya sadari ternyata posisi tubuhku saat itu seperti memeluk tubuhnya dari belakang. Bisa di bayangkan, tanpa sengaja juga Penis saya mengenai belahan pantatnya yang sekal dan semok. Keadaan ini bertahan beberapa lama. Hingga menimbulkan sesuatu yang kotor dipikiranku,

“ Guh gimana ini nih ? ”, tanya Bibi saya tanpa bisa bergerak.

“ Duh gimana ya Bibi, Teguh juga bingung nih Bik ? ”, ucap saya mengulur waktu.

Saat itu, karena gesekan-gesekan yang berlebihan di Penis saya, saya jadi tidak bisa menahan gairah untuk merasakan tubuhnya. Pelan-pelan saya melepas satu tanganku dari saluran air itu, pura-pura meraba-raba disekitar cucian piring, mencari sesuatu untuk menutup saluran air itu sementara. Tanpa sepengetahuannya saya justru melepas celana saya berikut juga celana dalamku.

Memang agak susah tapi akhirnya saya berhasil dan dengan tetap pada posisi semula kini bagian bawahku sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Lalu,

“ Wah, nggak ada yang bisa buat nutup Bibi. Sebentar Teguh carikan dulu yah Bik ”, ucap saya.

Kini niatku sudah tidak bisa ditahan lagi, pelan-pelan saya melepas peganganku di saluran air, kemudian,

“ Pegang dulu Bibi ”, ucap saya sedikit terengah menahan nafsu.

“ Yah, gih sana cepetan, Bibi sudah pegal nih ”, ucap Bibi.

Kemudian tanpa pikir panjang, secepat kilat saya menyingkap dasternya, kemudian secepat kilat juga berusaha untuk melorotkan celana dalamnya yang entah warnanya apa, karena sudah basah kuyup oleh air, warna aslinya jadi tersamar.

“ E... e... e… apa-apan ini Guh, jangan gitu dong !!! ”,tegur Bibi padaku.

Saat itu tanpa sadar Bibi melepas pegangannya dari saluran air untuk menahan tanganku yang masih berusaha melepaskan celana dalamnya. Air menyembur lagi.

“ Aohhhh… Ughhh… ”, ucap Bibi saya jadi tidak jelas karena mulutnya kemasukan air.

Tanpa sadar juga Bibi saya berusaha untuk menutup saluran air dengan tangannya lagi, otomatis tanganku sudah tidak ada yang menahan lagi. Kesempatan pikirku, dengan satu sentakan celana dalam Bibi saya melorot sampai diujung kakinya.

“ Oughhhh.... Guh jangan, aku ini Bibimu, jangann Guh, tolong… !!!”, ucap Bibi memohon.

Kepalang tanggung, saya langsung jongkok. Saya lalu menyibak pantatnya yang besar dan mencari liang senggamanya. Kudekatkan kepalsaya, kujulurkan lidahku untuk mencapai Kewanitaan-nya.

“ Sss... Guh... Aghhhh... ”, desah Bibi.

Ternyata jilatan pertama saya ternyata membuatnya bergetar tanpa bisa beranjak dari tempat semula, kalau bergerak air pasti akan menyembur lagi. Saat itu lidahku semakin leluasa merasakan aroma dari Kewanitaan-nya, semakin kedalam membuat Bibi saya bergetar hebat. Entah kenapa sudah tidak ada lagi bahasa tubuhnya yang menunjukkan penolakan.


Saat itu kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak keruan. Kecari Clitorisnya, memang agak sulit, setelah dapat kuhisap habis, dua jariku juga ikut menusuk liang Kewanitaan-nya. Tidak terkira jumlah lendir yang keluar, tak lama kemudian, terasa pantatnya bergetar hebat.

“ Aghhhh... Oughhh… Guh... Sssss… Aghhhh… ”, dengan erangan keras, rupanya Bibi saya sudah mencapai Klimaks.

Saat itu tubuhnya langsung lunglai tapi tanpa melepas pengangannya dari saluran air.
Aduh saya belum apa-apa pikirku. Langsung saya berdiri, kusiapkan senjatsaya yang sudah mengacung dengan keras. Dengan dua tanganku saya coba menyibakkan kedua belahan pantatnya sambil kudekatkan Penis saya pada Kewanitaan-nya. Kudorongkan sedikit demi sedikit.

Begitu sudah betul-betul tepat dimulut liang kenikmatannya, tanpa ba-bi-bu langsung kulesakkan dengan kasar,

“ Aghhh… sakit Guh... Aow… pelan-pelan... ”, kepala Bibi saya langsung melonjak keatas, tanpa sengaja pegangannya di saluran air terlepas.

Air menyembur dengan deras. Kepalang basah, begitu mungkin pikir Bibi saya karena selanjutnya dia hanya berpegangan dipinggiran cucian piring. Sudah tidak ada penolakan pikirku. Kudiamkan sebentar Penis saya yang sudah masuk hingga pangkalnya didalam Kewanitaan Bibi saya, ku nikmati benar-benar bagaimana ternyata Kewanitaan yang sudah mengeluarkan tiga orang manusia ini masih saja nikmat menggigit.

Sungguh sensasi yang sangat luar biasa sekali. Pelan-pelan kutarik, kemudian kudorong lagi,

“ Oughhh... Guh… Sssss… Aghhhh… terus sayang... cepetin sodokan kamu… Oughhh… cepat, Aghhhh... ”, desah Bibi.

Terus sayang pantatnya bergoyang melawan arah dari kocokanku,

“ Oughhh… Yeahhh… Nah gitu Guh, Oughhh... ya gitu teruuss... ”, Pinta Bibi saya.

Saat itu saya terus mengocokkan Penis saya dengan cepat. Sebentar kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat,

“ Yang cepat Guh, Bibi sudah mau keluar lagi... Oughhh... Aghhh… ”, ucap Bibi nikmat.

Kemudian kepalanya semakin menggeleng-geleng tidak karuan,

“ Cepatt... cepatt truss... ouchh... Bibi kelluaarr... aghhhhhhhhhh ”,

Akhirnya Bibi Irma mendapatkan Klimaksnya di iringi dengan kepalanya yang melonjak naik, tangannya mencengkeram pinggiran cucian piring dengan erat,

“ Cabut dulu Guh... Bibi linuu... ”, pinta Bibi saya, karena merasakan saya yang masih mengocoknya dari belakang.

“ Akan Teguh cabut, tapi janji nanti diteruskan lagi ya Bik? ucap saya.

“ Iya, tapi sekarang dari depan aja yah Guh ”, janji Bibi saya.


Tubuhnya kemudian berbalik. Wajahnya sudah awut-awutan dan basah kuyup. Kemudian dia duduk diatas cucian piring sambil menghadapku. Saya mendekat, langsung kucari bibirnya dan kemudian kami berpagutan lama. Sambil kami berciuman, satu tangannya membimbing Penis saya kearah liang Kewanitaan-nya. Tanpa disuruh dua kali kudorongkan pantatku dibarengi dengan masuknya juga Penis saya.

“ Aghhhh... Oughhh... ”, erang Bibi saya, ciuman kami terlepas.

“ Genjot yang cepatt Guh... Aghhhhh… ”, pinta Bibi saya sambil pahanya semakin dilebarkan.

“ Begini Bik... ??? Ucap saya sambil mengocokkan Penis saya dengan cepat.

“ Gila kamu Guh... kuat sekalii kamu... ”, ucapnya sambil satu tangannya menarik satu tanganku, kemudian ditaruhnya di bagian atas Kewanitaan-nya.

Saya tahu mau maksudnya,

“ Aghhhh yang ituu... teruss Guh... ohh enakk... teeruss... ”, rintih Bibi saya ketika sambil Penis saya mengocok Kewanitaan-nya tanganku juga memelintir Clitorisnya.

Oughhh Guh, Bibi hampir sampai nih... ”, ucapnya.

Saat itu tubuhnya mulai bergetar agak keras,

“ Saya juga hampir klimaks Bik... Oughhh punya Bibi eenakk... ”, ucap saya mulai tidak bisa mengendalikan lagi, Klimaks saya tinggal sebentar lagi.

“ Mau dikeluarin dimana Bik ? tanya saya mrminta ijin.

“ Udah nggak usah mikirin itu, ayoo teruss... didalem juga nggak Papa
Ayoo...Bibi udah diujung nihh Guh... ”, ucap Bibi.

“ Oughhh... enakk... cepatt Guh... ”, desah Bibi saya.

“ Goyang Bik, kita barengan ajaa... Oughh ”, ucap saya.

Saat itu saya merasakan Klimaks saya sudah diujung. Semakin kupercepat kocokanku, Bibi saya juga mengimbangi dengan menggoyang pantatnya. Sambil berpegangan pada belakang pantatnya, kukeluarkan sperma saya.
“ Saya keluarr Bik... Aghhhhh... ” ucapku telah mencapai klimaks sembari kubenamkan dalam-dalam.

“ Bibi juga Guh... Aghhhh... gilaa... enaknya... ”, erangnya sambil jemarinya mencengkeram bahuku.

Akhirnya kami berdua terkulai lemas. Kudiamkan dulu Penis saya yang masih ada didalam Kewanitaan-nya. Kulirik ada sedikit lelehan sperma yang keluar dari Kewanitaan-nya. Seperti tersadar dari dosa, Bibi saya mendorong badanku.

“ Kamu nakal Guh, berani sekali kamu berbua seperti ini pada Bibi ”,Ucap Bibi saya.

“ Tapi Bibi juga menikmatinya kan? ”, balas saya.

Tanpa berkata apa-apa, dia kemudian turun, meraih celana dalamnya kemudian berlalu kekamar mandi. Saya berusaha mengejarnya tapi dia sudah lebih dulu masuk kamar mandi kemudian menguncinya,

“ Bibi air di tandon tadi sudah habis hloh ”, canda saya dari luar kamar mandi tapi tidak ada balasan dari dalam.

Semenjak kejadian itu hubungan saya dengan Bibi semakin menjadi-jadi saja. Hampir setiap hari kami melakukan Hubungan Sex jika suasana rumah memungkinkah. Demikian cerita sex saya. Selesai.

Saturday, September 24, 2016

Mencuri Kesempatan Dalam Kesempitan

Mencuri Kesempatan Dalam Kesempitan



Sore itu, aku terbangun. Kulihat jam di mejaku menunjukkan pukul 4.00 sore. Iseng aku memanjat dinding tembok pembatas kamarku, mau melihat aktivitas tetangga sebelahku.
Melalui ventilasi kulihat Mas Indarto dan Mbak Tiara sdg tidur-tiduran sambil mengobrol di atas tempat tidur. Aku mengawasi terus, kulihat Mas Indarto cuma memakai singlet, begitu juga Mbak Tiara yg cuma memakai baju dalam. Dasar pengantin baru, pasti mau main, ayo kapan mainnya ? pikirku mulai tak sabaran.
Kulihat Mas Indarto dan Mbak Tiara berbicara sambil berpelukan, aku kurang bisa menangkap apa yg mereka bicarakan. Sesekali Mbak Tiara tertawa cekikikan. Beberapakali pula aku amati Mas Indarto meremas buah dada Mbak Tiara.Lama aku menunggu, sampai akhirnya yg aku harapkan terjadi juga.
Tiba-tiba MasIndarto membuka celana pendeknya dan memegang tangan Mbak Tiara, menyuruh Mbak Tiara memegang kemaluan Mas Indarto. Mbak Tiara kelihatannya menurut dan me-masukkan tangannya ke dalam celana Mas Indarto, tetapi baru sebentar sudah ditariknya kembali, terlihatnya Mbak Tiara menolak.
Yaaa….. itu aja gag mau, apalagi kalau disuruh karaoke desahku dalam hati kecewa.
Namun kekecewaanku terobati karena sejurus kemudian Mas Indarto tiba-tiba bangkit dari tempat tidur dan melepas celananya. Kini ia cuma bercelana dalam dan bersinglet.
Kemudian serta merta ia memeluk Mbak Tiara. Aku tersenyum kegirangan, keinginanku untuk melihat keduanya bersetubuh terlihatnya akan terpenuhi.Tak lama, Mas Indarto melepas pelukannya dan Mbak Tiarapun mulai melepas celananya.
Kini sama seperti suaminya, Mbak Tiara cuma bersinglet dan bercelana dalam. Kulihat badan, putih dan mulus sekali.Kemudian mendadak Mas Indarto mengeluarkan kemaluannya dari celana dalamnya. Kecil sekali, dibandingkan punyaku, kataku dalam hati melihat kemaluan Mas Indarto.
Mas Indartopun langsung meng-himpit Mbak Tiara, terlihatnya Mas Indarto akan mempenetrasi Mbak Tiara. Kulihat Mbak Tiara memelorotkan celana dalamnya cuma sampai sebataspaha. Sejurus kemudian aku melihat pelan Mas Indarto memasukkan kemaluannya ke dalam lubang kemaluan Mbak Tiara yg tertutup bulu jembut. Setelah kemaluan Mas Indarto masuk keseluruhannya ke dalam kemaluan Mbak Tiara,
Mas Indarto langsung memeluk Mbak Tiara sambil menciumnya bertubu-tubi. Itu dilakukan cukup lama.Aku sedikit keheranan kenapa Mas Indarto tak melakukan genjotan, tak mendorong-dorong pinggulnya ?
Mas Indarto cuma diam memeluk Mbak Tiara. Waaah…..ini pasti karena Mas Indarto gag tahan bermain lama, gag seperti aku kataku dalam hati, tertawa, merasa unggul dari Mas Indarto.
Disinilah aku mulai melihat adanya kesempatanku untuk turut melakukan tumpangsari pada Mbak Tiara.Ditambah lagi, kejadian itu cuma berlangsung sangat singkat, sekitar 5 menit. Meskipun kulihat Mbak Tiara tetap bisa mencapai klimaksnya, tetapi cepat pula MasIndarto menyusulnya. Aku me-nangkap kekecewaan di wajah Mbak Tiara, meski Mbak Tiara berusaha tersenyum setelah permainan itu, tapi aku yakin ia tak puas dengan permainan Mas Indarto.
Peristiwa observasi awal hari kemarin itu membuatku mengambil kesimpulan, ada kemungkinan aku menyetubuhi Mbak Tiara dan merasakan nikmat tubuhnya, kalau perlu akujuga akan menanam saham di tubuh Mbak Tiara !Itulah tekadku, aku mulai me-nyusun taktik.
Mas Indarto itu belum bekerja, ada kesempatan bagiku untuk membuatnya berpisah cukup lama dari Mbak Tiara. Apalagi aku punya kenalan yg bekerja di perusahaan, namanya Anton.Siang ini aku menjumpai Anton di kantornya,
“Hai Bud, apa kabar ? tanya Anton sambil menjabat tanganku. “
“Baik jawabku sambil ter-senyum. “
“Silahkan duduk “
Setelah aku duduk di kursi kantornya yg empuk itu, aku mulai mengajukan permintaan,
“Ton, aku butuh bantuanmu “
“Oh, itu semua bisa diatur, bantuan apa ?”
“Aku butuh pekerjaan “
“Bisa, bisa, kamu mau kerja di mana ? gaji berapa ? “
“Oh..gag ! Maksudku bukan untuk diriku, tapi ini untuk orang lain “
“Hm memangnya untuk siapa ? “
“Untuk temanku, Mas Indarto, kamu wawancarai, tempatkan di mana saja kamu suka, gagperlu tinggi-tinggi betul jabatannya “
“Aneh…tapi jika itu maumu, yaa tak apa-apa “
“Yg penting kamu wawancarai dia cukup lama, beberapa kali “
“Oke, baik kalau gitu “
“Tapi…nanti jadwal wawanca-ranya aku yg tentuin “
“Terserah kamu “
Maka mulailah aku menyusun jadwal wawancaranya, mulai lusa, hari rabu sampai jumat dari jam 07.00 sampai 10.00 pagi.Anton menyetujuinya, kemudian aku permisi pulang.
Dalam perjalanan pulang, hatiku sangat senang, sudah terbayg nikmatnya tubuh Mbak Tiara itu.Sesampainya di kos-kosanku, aku langsung bertemu dengan Mas Indarto di tempat cuci,terlihat Mas Indarto sdg menyuci bajunya.
“Mas…….aku ingin bicara se-bentar kataku mulai membuka percakapan.Mas Indartopun menoleh dan menghentikan pekerjaannya. “
“Ada apa Bud ? “
Begini…….aku dengar Mas Indarto mencari pekerjaan, kebetulan tadi aku ke tempat teman aku, dia perlu pegawai baru, dianya sih malas menaruh iklan di koran, soalnya dia cuma butuh satu orang jawabku panjang lebar menjelaskan. Sedikit berdebar-debar aku menunggu tanggapan, takut tawaranku ditolak.Lama Mas Indarto kulihat terdiam, merenung, lalu
“Hmmm….aku pikir dulu, sebelumnya terima kasih ya ?! “
“Ya Mas… “ kataku dengan senyuman.Dalam hatiku, aku berpikir Habislah sudah kesempatanku !
Tapi setelah di dalam kamar, sekitar 2 jam kemudian aku yg tertidur, terbangun oleh ketukan di pintu. Aku lalu bangun, mengucek-ngucek mataku, melihat dari jendela. Terlihat Mas Indarto berdiri menunggu. Akupun cepat-cepat membuka pintu. Wah..sdg tidur ya, kalau gitu nanti saja
Mas Indarto tiba-tiba permisi.
“Eee….gag..gag koq Mas, aku sudah bangun nih” kataku berusaha mencegah Mas Indarto pergi.
“Gangguin tidur kamu gag ? “
“Nggak…nggak kok, masuk aja” kataku mempersilahkan.Setelah kami berdua duduk di karpet kamarku,
“Begini, ini soal lamaran kerja yg kamu bilang itu, tempatnya di mana sih ? “ Mas Indarto bertanya.
“Ooo…itu di Kaliurang km 7 nomor 14, nama perusahaannya DHL, gag jauh kok “
“Syaratnya gimana ?”
“Aku kurang tau juga tuh, Mas Indarto pergi saja ke sana. temui teman aku, Anton, katakan Mas butuh pekerjaan, tahunya dari Budi “
“Wah…kok rasanya kurang enak ya, seperti nepotisme saja “ Mas Indarto sepertinya keberatan.
“Egag….gag… koq, perusa-haannya besar, Mas ke sana juga belum tentu diterima, Mas tetap melalui tes dulu” kataku meya-kinkan Mas Indarto.
“Hmmm…baiklah, tak coba dulu, jam berapa ya ke sana ? “
“Sekitar jam kerja saja baiknya, jam 07.00 pagi saja” kataku me-nyarankan.Mas Indarto cuma mengangguk tersenyum, lalu permisi seraya tak lupa berterima kasih kepadaku. Aku cuma tersenyum, berarti selangkah lagi keinginanku tercapai.
Hari ini selasa, sesuai pre-diksiku, Mas Indarto pagi-pagi sudah berangkat, dan sekitar jam 11.00 siang baru pulang.Aku menuju ke kamarnya, lalu mengetuk pintu,
“Assalamualaikum” aku mem-beri salam.
“Waalaikumussalam”, terdengar jawaban Mas Indarto dari dalam kamarnya.Lama baru pintu dibuka, dan Mas Indarto mempersilahkanku un-tuk masuk. Kulihat di dalam ka-marnya, istrinya tengah duduk di pinggir tempat tidur dengan me-makai jilbab putih, tersenyum padaku. Mbak Tiara terlihat cantik sekali.
“Bagaimana Mas, tadi ? ta-nyaku “
“Oh…nanti aku disuruh ke sana lagi, besok untuk test wawancara “
“Alhamdulillah, tak doain supa-ya berhasil “
“Terima kasih “
Setelah berbasa – basi cukup lama, akupun permisi.
“Eehh…nanti dulu, kamu khan belum minum”, Mas Indarto berusaha mencegahku.
“Ayo Tiara buatkan air minumnya dong perintah Mas Indarto me-nyuruh istrinya”, Mbak Tiara.Aku menolak dengan halus,
“Ah gag usah Mas, aku sebentar aja koq, ada urusan “
“Oh baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih ya “
Aku tersenyum mengangguk, kulihat Mbak Tiara tak jadi membuat minuman. Akupun pergi ke ka-marku, riang karena sebentar lagi adikku akan bersarang dan menewajahnpasangannya.
Hari ini rabu, Mas Indarto sudah berangkat dan meninggalkan Mbak Tiara sendirian dikamarnya. Ren-cana mulai kulaksanakan. Aku membongkar beberapa koleksi Video dewasaku, memilih salah satunya yg aku anggap paling bagus, Video dewasa dari Indonesiasendiri, lalu membungkusnya dengan kertas merah jambu.Kemudian sambil membawa bungkusan Video itu, aku menuju ke kamar tetagagu, mengetuk pintu,
Assalamualaikum, aku mem-beri salam.Lama baru terdengar jawaban,
Waalaikumussalam, jawaban Mbak Tiara dari dalam kamar itu.Pintunyapun terbuka, kulihat Mbak Tiara melongokkan kepalanya yg berjilbab itudari celah pintu,
“Ada apa ya ?” tanyanya.
“Ini ada hadiah dari aku, aku mau memberikan kemarin tetapi lupa” kataku sambil menunjukkan bungkusan Video itu.
Oh, baiklah, kata Mbak Tiara sambil bermaksud mengambil bungkusan di tanganku itu.
Eee…tunggu dulu Mbak, ini isinya Video, aku mau lihat apa bisa muter gag di komputernya Mas Indarto, kataku mengarang alasan.
Sedikit keberatan kelihatannya, akhirnya Mbak Tiara mempersi-lahkanku untuk masuk, aku yakin dia juga kurang ngerti tentang komputer.Di dalam kamar, aku menghi-dupkan komputer dan mengope-rasikan program Video playernya, lalu kumasukkan Video-ku itu dan kujalankan. Sesuai dugaanku Video itu berjalan bagus.
“Mbak pingin nonton ?” tanyaku sambil melihat Mbak Tiara yg sedari tadi duduk di belakang memperhatikanku.
“Video apa sih ?” tanya Mbak Tiara kepadaku.
Pokoknya bagus jawabku sambil kemudian memberikan pe-tunjuk bagi Mbak Tiara , bagaimana cara menghentikan player dan mematikan komputernya.Mbak Tiara cuma mengangguk, lalu kupermisi untuk pergi mum-pung videonya belum masuk ke bagian intinya.
Pintu kamar tetagagu itupun kembali ditutup, aku bergegas ke kamarku, mau mengintip apa yg dilakukan Mbak Tiara.Setelah di kamarku. melalui ven-tilasi kulihat Mbak Tiara menonton di depan komputer.
Dia terlihatnya kaget begitu melihat adegan dewasa langsung hadir di layar monitor komputer itu. Dengan cemas aku menantikan reaksinya.Menit demi menit berlalu sampai sudah 15 menit kulihat Mbak Tiara masih tetap menonton.
Aku senang berarti Mbak Tiara menyukainya.Lalu terjadi sesuatu yg lebih dari aku harapkan, tangan Mbak Tiara pelan masukke dalam roknya, dan bergerak-gerak di dalam rok itu.
“Hhh…..hhhh….oohhh…..oohhh, “
suara Mbak Tiara mendesah-desah , terlihatnya merasakankenikmatan.Aku kaget, Wah….hebat….dia masturbasi kataku dalam hati.Ingin aku masuk ke kamar Mbak Tiara, memeluknya dan langsung menyetubuhinya, tetapi aku sadar, ini perlu proses.
Akhirnya aku memutuskan untuk tetap mengintip, dan berinisiatif mengukur kemampuanku. Akupun mulai melakukan onani dengan memain-mainkan kemaluanku.Video di komputer itu terus berjalan…… sampai telah hampir 1,5 jam lamanya, pertanda video itu akan habis dan Mbak Tiara kulihat sudah empat kali klimaks, luarbiasa.
Dan ketika videonya berakhir, Mbak Tiara ternyata masih me-neruskan masturbasinya sampai menggenapi klimaksnya menjadi lima kali.
Akkkhhhhhhh………, Mbak Tiara terpekik pelan menandai klimaksnya.Sesaat setelah klimaks Mbak Tiara yg kelima akupun ejakulasi.
Oooorghhhh………, suara berat-ku mengiringi luapan sperma di tanganku.Aku senang sekali, berarti aku lebih tangguh dari Mas Indarto dan bisa memuaskan Mbak Tiara nan-tinya karena bisa klimaks dan ejakulasi bersamaan.Kemudian Mbak Tiara sesuai petunjukku, kulihat mengeluarkan Videonya dan mematikankomputer.
Setelah siang hari, Mas Indarto baru pulang. Sedikit berdebar-debar aku menunggu perkem-bangan di kamar tetagagu itu, takut kalau – kalau Mbak Tiara ngomong macam- macam soal Video itu, bisa berabe aku !
Tetapi lama…..kelihatannya tak terjadi apa-apa. Kembali aku me-ngintip lewat ventilasi, apa yg terjadi di sebelah.Begitu aku mulai mengintip, aku kaget ! Karena kulihat Mbak Tiara dalam keadaan hampir bugil, cuma memakai celana dalam dihimpit oleh Mas Indarto, mereka bersetubuh !
Namun seperti yg dulu-dulu, permainan itu cuma berlangsung sebentar dan terlihatnya Mbak Tiara kelihatan tak menikmati dan tak bisa mencapai klimaks. Bahkan aku melihat Mbak Tiara seringkali kesakitan ketika penetrasi atau ketika buah dadanya diremas.
Ah…Mas Indarto gag pandai merangsang sih, pikirku.
Bagaimanapun aku senang, langkah keduaku berhasil, mem-buat Mbak Tiara tak bisalagi men-capai klimaks dengan Mas Indarto. Prediksiku, Mbak Tiara akan sangat tergantung pada Video itu untuk kepuasan klimaksnya, sdgkan cara menghidupkan Video itu cuma aku yg tahu, disinilah kesempatanku.
Kamis, pukul 08.00. Aku bangun dari tidur, mempersiapkan segala sesuatunya, karena hari ini bisa jadi saat yg sangat bersejarah bagiku. Kemarin aku telah meng-intip Mbak Tiara dan Mas Indarto seharian, mereka kemarin ber-setubuh cuma dua kali, itupun berlangsung sangat cepat, dan yg penting bagiku, Mbak Tiara tak bisa klimaks.
Malam kemarin aku juga sudah bersiap-siap dengan minum se-gelas jamu kuat, ygbisa menambah kualitas spermaku.Pagi itu, setelah aku mandi, aku berpakaian sebaik mungkin, parfum beraroma melati kuusapkan ke seluruh tubuhku, rambutku juga sudah disisir rapi. Lalu dengan langkah pasti aku melangkah ke tetangga sebelahku, Mbak Tiara yg sdg sendirian.
Kembali aku mengetuk pintu kamarnya pelan,
“Assalamualaikum”, aku mem-beri salam.
“Waalaikumussalam”, suara lem-but Mbak Tiara menyahut dari dalam kamar.Mbak Tiarapun membuka pintu, kali ini ia berdiri di depan pintunya, tak sepertikemarin yg cuma melongokkan kepala dari celah pintu yg sedikit terbuka. Dia memakai jilbab pink dengan motif renda, manis sekali.
Oh ya, aku lupa membe-ritahukan cara menghidupkan Video kemarin kataku sambil tersenyum.Tiba-tiba raut wajah Mbak Tiara menjadi sangat serius,
Kamu kurang ajar ya, masa ngasiin Video dewasa gituan ke Mbak, kata Mbak Tiara sedikit keras.
Aku kaget, ternyata ia marah, pikirku. Lalu cepat aku mengarang alasan,
Oh maaf Mbak, Videonya yg hadiah itu, isinya video soal riwayat Nabi-Nabi buatan TV3 Malaysia, maaf kalau tertukar, yah aku ambil saja lagi
Mbak Tiara masuk ke dalam kamarnya, ia terlihat kecewa, aku senang berarti ia takutkehilangan Video itu. Lalu akupun masuk ke kamarnya melalui pintu yg sedari tadi terbuka.Mbak Tiara kaget, melihatku mengikuti langkahnya,
Eeeh…kamu kok ikut masuk juga ?! Sambil menutup pintu, tenang aku menjawab,
Alaa….Mbak jangan munafiklah, tokh Mbak juga menyukai Video dewasa itu, aku lihatMbak sampai masturbasi segala
Kurang ajar kamu ! Keluar ! Kalau tak aku akan berteriak, bentak Mbak Tiara.
Mbak jangan marah dulu, coba Mbak pikirkan lagi, sejak menonton Video itu, Mbak tak bisa lagi klimaks dengan Mas Indarto khan kataku sambil merebut Video itu dan mematahkannya.Mbak Tiara terkejut, Kamu…..Tak sempat ia menyelesaikan kata-kata, aku memotongnya, Aku bersedia memberikan kepuasan kepada Mbak Tiara, aku jamin Mbak Tiara bisa klimaks bila main dengan aku. Kurang ajar ! Keluar kamu !
Eeee….tak segampang itu, ayolah Mbak Tiara jangan marah, pi-kirkan dulu, akusatu-satunya ke-sempatan, bila Mbak Tiara tak me-makai aku, seumur-umur Mbak Tiara gag akan pernah mencapai klimaks lagi, aku mulai meng-hasutnya.Mbak Tiara terdiam sebentar, aku senang dan berpikir ia mulai termakan rayuanku,tapi…
tidak ! Kata Mbak tidaaak ! Sekarang keluar kamu !
Aku gemetar, tapi tetap ber-usaha.
Mbak sebaiknya pikirkan lagi, di sini cuma aku yg mengajukan diri memuaskan Mbak, aku satu-satunya kesempatan Mbak, kalau Mbak tak mengambil kesempatan ini, Mbak akan rugi !
kataku sedikit tegas.
Lama kulihat Mbak Tiara terdiam, bahkan dia kini terduduk lemas di samping ranjangnya. Aku pura-pura mengalah…
Yah, sudahlah, jika Mbak tak mau, aku pergi saja, aku itu cuma kasihan ngelihat Mbak ! kataku sambil beranjak pergi.Tetapi kulihat Mbak Tiara cuma diam terduduk di ranjangnya, aku membatalkan niatku, pintu yg telah terbuka kini kututup lagi dan kukunci dari dalam. Perlahan aku mendekati Mbak Tiara, kulihat ia menangis, Mbak….jangan menangis, tak ada maksud aku sedikitpun menyakiti Mbak, kataku sambil mulai menyeka air matanya dengan tanganku.Lalu pelan-pelan kupegang pun-dak Mbak Tiara dan kudorong pelan dia agar berbaring di ranjang.
Ter-nyata Mbak Tiara cuma menurut saja, aku kesenangan, rayuanku berhasil meruntuhkan pendiriannya.Kemudian aku mulai membuka resleting celana panjangnya, ia terlihatnya menolak, tetapi aku dengan santai menepis tangannya dan memasukkan tanganku ke dalam celananya.
Tanganku masuk kedalam kolornya, lalu langsung jariku menuju ke tengah lubang birahinya. Aku sudah terburu nafsu, mencucuk-cucukkan jemariku ke dalam lubangitu berkali-kali.
Akhhh…..akhhh…….ahhhhhh,
desahan Mbak Tiara mengiringi setiap tusukan jemariku.Aku ingin membuatnya terang-sang dan mencapai klimaks. Lalu dengan cepat kutarikcelana pan-jang dan kolornya, sesampai terlihatlah kemaluan yg putih dan mulus, aku langsung mencium paha mulus itu bertubi-tubi, menjilat paha putih Mbak Tiara dengan merata.
Akupun mengincar kelentit Mbak Tiara yg tersembul ke luar daribagian atas kemaluannya.Langsung aku kulum kelentit itu di dalam mulutku,
Elmm…..mmmm…….emmmm dan lidahku menari-nari di atasnya, terkadang kugigit pelan-pelan berkali-kali,
Akhh….ooohhhh……aaahhhhh,
suara Mbak Tiara mendesah kuat tanda terangsang.Jemari tanganku semakin kuper-cepat menusuk kemaluan Mbak Tiara dan lidahku makin menggila menari-nari di atas kelentitnya yg berwarna merah jambu itu.Perlahan kubimbing Mbak Tiara mencapai puncaknya, sampai akhirnya……
Aaaaaaakkkhhhhhh…………,
pekikan pelan Mbak Tiara mengiringi klimaksnya.Kulihat jemari tanganku basah, bukan karena liurku tetapi karena cairan kemaluan Mbak Tiara yg klimaks. Aku mencium kemaluan itu, tercium bau khas cairan kemaluan wanita yg klimaks.
Aku tersenyum, hatiku senang karena bisa membawa Mbak Tiara mencapai klimaksnya.Tetapi aku tak berhenti sampai di situ saja. Setelah memelankan tusukan jariku, kini tusukan itu kembali kupercepat,
Ahhh….ahhhh….yaah…..yaahh,
suara Mbak Tiara mulai meracau.Sementara tangan kiriku beroperasi di kemaluan Mbak Tiara, tangan kananku mulai meremas blus Mbak Tiara, dengan cepat tangan kananku merobek blus itu dan menarik kutangnya sampai menyembullah buah dada Mbak Tiara yg indah membukit.Kemudian aku menghisap kedua puting itu sambil tangan kananku meremas buah dada Mbak Tiara bergantian,
Slurrpp….slrrrrpp…..slluuurpp, aku menghisap puting Mbak Tiara, sementara desahan Mbak Tiara terdengar halus di telingaku,
Akhh….teruuss…..teruuusss. Sementara tangan kiriku tetap beraksi di kemaluan MbakTiara, dan kemaluan itu semakin becek,
Crrtt…..crrtt……slrrpp
Kini mulutku mulai merangkak maju menuju bibir Mbak Tiara yg mendesah-desah, begitu wajah kami bertatapan, kulumat bibir mungil itu dalam-dalam, Mbak Tiara sedikit kaget,
Ohhh….oomlmmm…elmmmm, Mbak Tiara tak bisa lagi bersuara, karena bibirnya telah kulumat, lidahnya kini bertemu dengan lidahku yg menari-nari.Aku memang berusaha mem-bimbing Mbak Tiara agar klimaks untuk kedua kalinya.
Agar di saat klimaksnya itu aku bisa me-masukkan kemaluanku, mempenetrasi kemaluannya. Karena aku sadar penetrasi itu akan sangat sakit karena ukuran kemaluanku lebih besardari punya Mas Indarto yg biasa masuk.Sambil mencium dan merang-sang kemaluan Mbak Tiara, tangan kananku mulai melepas celana panjangku dan kolorku, lalu melem-parkannya ke lantai.
Tangan kananku mengelus-elus kemaluanku yg terasa mulai mengeras.Lama akhirnya Mbak Tiara mencapai klimaksnya yg kedua kali,
Ooorrggghhhhh………..
Mbak Tiara mengerang, tetapi belum selesai erangannya, aku langsung menusukkan kemaluanku pelan-pelan ke dalam kemaluannya.
Aaaaaahhhhh…………
suara Mbak Tiara terpekik, matanya sayup-sayup menatap syahdu ke arahku, aku tersenyum.Akupun mengambil posisi duduk dan mengangkangkan kedua paha Mbak Tiara dengan kedua tanganku, lalu kulakukan penetrasi kemaluanku pelan-pelan lama kelamaan men-jadi semakin cepat. Bunyi becekpun mulai terdengar,
Sllrrttt…cccrrttt….ccrrplpp,
suara becek itu terus berulang-ulang seiring dengan irama tusukanku.
Akhhh….yaaahh…terus…
suara desahan Mbak Tiara keenakan. Akupun semakin mempercepat tusukan, kini kedua kakinya ku-sandarkan di punggakku, pinggul Mbak Tiara sedikit kuangkat dan aku terus mendorong pinggulku ber-ulang-ulang. Sementara dengan sekali sentakan kulepaskan jilbabnya, terlihatlah rambut hitam sebahu milik Mbak Tiara yg indah, sambil menggenjot aku membelai rambut hitam itu.
Ahhh…..ahhh….aaahhh
Ohhh……ohhhh……..hhhh
Suara desahanku dan Mbak Tiara terus terdengar bergantian seperti irama musik alam yg indah.Setelah lama, aku mengubah posisi Mbak Tiara, badannya kutarik sesampai kini diaada di pangkuanku dan kami duduk berhadap-hadapan, sementara kemaluanku dan kemaluannya masih menyatu.
Tanganku memegang pinggul Mbak Tiara, membantunya badannya untuk naik turun. Kepalaku kini dihadapkan pada dua buah pepaya montok nan segar yg ber-senggayut dan tergoyg-goyg akibat gerakan kami berdua.
Langsung kubenamkan kepalaku ke dalam kedua buah dada itu, menjilatnya dan menciumnya ber-gantian.Tak kusangka genjotanku membuahkan hasil, tak lama…..
Oooohhhhhhh……………..
lenguhan panjang Mbak Tiara menandai klimaksnya, kepalanya terdongak menatap langit-langit kamarnya saat pelepasan itu terjadi.Aku senang sekali, kemudian kupelankan genjotanku dan akhirya kuhentikan sesaat.
Lama kami saling bertatap-tatapan, aku lalu mencium mesra bibir Mbak Tiara dan Mbak Tiara juga menyambut ciumanku, jadilah kami saling berciuman dengan mesra, oh..indahnya.Tak lama, aku menghentikan ciumanku, aku kaget, Mbak Tiara ternyata menangis !
Kenapa Mbak Tiara ? aku me-nyakiti Mbak ya ?! tanyaku lembut penuh sesal.Masih terisak, Mbak Tiara menjawab,
Ah…..gag, kamu justru telah membuat Mbak bahagia
Kami berdua tersenyum, ke-mudian pelan aku baringkan Mbak Tiara. Perlahan aku mengencangkan penetrasiku kembali.Sambil meremas kedua payu-daranya, aku membolak-balikkan badan Mbak Tiara ke kiridan ke kanan. Kami berdua mendesah bergantian,
Ahhh…..ahhh….aaahhh
Ohhh……ohhhh……..hhhh
Terus….lama, sampai akhirnya aku mulai merasakan urat-uratku menegang dan cairan kemaluanku seperti berada di ujung, siap untuk meledak.Aku ingin melakukannya ber-sama dengan Mbak Tiara. Untuk itu aku memeluk Mbak Tiara, menciumi bibirnya dan membelai rambutnya pelan. Usahaku berhasil karena perlahan Mbak Tiara kembali terang-sang, bahkan terlalu cepat.Dalam pelukanku kubisikkan ke telinga Mbak Tiara,
Tahan……tahan………Mbak, kita lakukan bersama-sama ya
Ohhh…ohhh….ohhhh…..aku su-dah tak tahan lagi desah Mbak Tiara, kulihat matanya terpejam kuat menahan klimaksnya.
Pelan…..pelan saja Mbak, kita lakukan serentak, kataku membisik sambil kupelankan tusukan kemaluanku.Akhirnya yg kuinginkan ter-jadi, urat-urat syarafku menegang, kemaluanku makin mengeras. Lalu sekuat tenaga aku mendorong pinggulku berulang-ulang dengan cepat.
Akhhh….ooohhh….ohhh
suara Mbak Tiara mendesah. Kepalanya tersentak-sentak karena dorongan kemaluanku.
Lepaskan…..lepaskan……Mbak, sekarang ! suaraku mengiringi de-sahan Mbak Tiara,Mbak Tiara menuruti saranku, diapun akhirnya mele-paskan klimaksnya,
Aaaakkhhhhh…………
Ooorggghhhhh………
suara be-rat menanggakan ejakulasiku, meng-iringi klimaks Mbak Tiara. Erat ku-peluk ia ketika pelepasan ejakulasi itu kulakukan.Setelah permainan itu, dalam keadaan bugil aku tiduran terlentang di samping MbakTiara yg juga telanjang. Mbak Tiara me-melukku dan mencium pipiku berkali-kaliseraya membisikkan sesuatu ke telingaku.
Terima kasih Bud.
Mbak Tiara kulihat senang dan memeluk tubuhku erat, tertidur di atas dadaku. Dalam hatiku aku merasakan senang, gembira, tapi juga sedih. Aku sedih dan me-nyesal melakukan ini dengan Mbak Tiara, aku takut ia tak akan pernah lagi mencapai klimaks selain de-ngan diriku, ini berarti aku me-nyengsarakan Mbak Tiara.